MENCEKAM, Ini Bahayanya Kalau Pemimpin Tidak Taat pada Allah

Berita Teraktual dan Terpercaya

(Photo Ilustrasi Demonstrasi yang Mencekam)

Dumai – Bahaya besar mengintai ketika seorang pemimpin tidak lagi menempatkan ketaatan kepada Allah sebagai landasan utama dalam memimpin. Sejarah menunjukkan, keruntuhan bangsa sering diawali dari pemimpin yang lalai terhadap amanah dan syariat.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadits ini menegaskan bahwa kepemimpinan bukan sekadar jabatan, melainkan amanah berat yang akan dipertanyakan di akhirat.

Imam Al-Mawardi dalam kitab Al-Ahkam As-Sulthaniyyah menulis, “Kepemimpinan diadakan untuk menjaga agama dan mengatur dunia. Jika pemimpin tidak menjalankan agama, maka dunia akan rusak; dan jika dunia rusak, maka agama pun ikut terganggu.” Sementara Ibn Taimiyyah mengingatkan, “Allah menegakkan negara yang adil walaupun kafir, dan tidak menegakkan negara yang zalim walaupun muslim.”

Kenyataan di Indonesia memperlihatkan betapa bahayanya jika pemimpin tidak berpegang pada nilai agama. Data Indonesia Corruption Watch (ICW) mencatat ada 579 kasus korupsi sepanjang 2022, meningkat dibanding tahun sebelumnya. Jumlah tersangka pun bertambah signifikan, menunjukkan rapuhnya integritas sebagian pejabat publik.

“Korupsi adalah tanda nyata lemahnya ketaatan seorang pemimpin kepada Allah. Ketika pemimpin lebih mementingkan harta dan kekuasaan, maka rakyatlah yang menjadi korban dari kezaliman itu,” ujar seorang ulama di Dumai, Sabtu (30/8).

Para pengamat menilai, krisis moral dan maraknya kasus korupsi di kalangan pejabat adalah bukti nyata bahaya pemimpin yang tidak taat kepada Allah. Keadaan ini tidak hanya menimbulkan penderitaan sosial dan ekonomi, tetapi juga meruntuhkan kepercayaan rakyat kepada pemerintah.

Melihat kondisi ini, para ulama dan tokoh masyarakat memberikan masukan agar pemerintah lebih serius kembali kepada nilai-nilai ilahiah. Pemerintah diharapkan menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah melalui pemahaman para ulama sebagai pedoman utama dalam menyusun kebijakan, menegakkan hukum dengan adil tanpa pandang bulu, dan mengedepankan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.

“Jika pemerintah dan para pemimpin negeri ini benar-benar taat kepada Allah, menjauhi korupsi, dan menegakkan keadilan, maka keadaan bangsa akan jauh lebih baik, penuh keberkahan, dan mendapat pertolongan dari Allah,” tegas seorang tokoh ormas Islam di Jakarta.

Seruan ini menjadi peringatan sekaligus ajakan agar pemerintah segera memperbaiki diri. Dengan ketaatan kepada Allah, kezaliman akan sirna, keadilan akan tegak, dan Indonesia dapat menjadi negeri yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur (negeri yang baik, penuh rahmat, dan dinaungi ampunan Allah).

Penulis : Dawit

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *